Rabu, 16 Maret 2011

Uwais Al-Qarny, Menurut Ustadz Jalaluddin Rakhmat

Tulisan yang ada di bawah ini saya kutip dari buku The Road To Allah karya Jalaluddin Rakhmat, halaman 85-86, tanpa saya kurangi atau tambahi:

Pada zaman Nabi Saw., ada seorang anak muda yang tinggal di Yaman. Ia tidak pernah berjumpa dengan Nabi Saw. Tetapi pada suatu hari Rasulullah Saw. bersabda kepada sahabat-sahabatnya, "Aku mencium napas Rahman dari Yaman. Aku mencium embusan Tuhan yang Maha Pengasih dari Yaman." Ia berpesan kepada para sahabatnya agar menyapaikan pesan dan salam beliau kepadanya, kelak sepeninggal beliau. Dalam riwayat para sufi bahkan dikisahkan bahwa Nabi berwasiat agar pakaian yang dikenakan pada akhir hayatnya dihadiahkan kepadanya. Pada zaman pemerintahan 'Umar, ia datang ke Madinah. Begitu ia mendengar salam Nabi, ia pingsan. Kelak, pada zaman 'Ali, ia berperang di pihak 'Ali. Ia dahulu tidak sempat ikut berperang bersama Nabi Saw. karena berkhidmat kepada orangtuanya yang sudah tua renta. Lelaki ini dikenal dalam dunia tasawuf sebagai Uwais Al-Qarni, salah seorang wali Allah yang besar. Ia baru sempat berjihad bersama 'Ali bin Abi Thalib setelah kedua orangtuanya meninggal dunia.

Uwais mencari surga di bawah telapak kaki ibunya, sebelum mencari surga di bawah kilatan pedang. Ia mencurahkan keringatnya untuk membahagiakan ibunya sebelum menumpahkan darahnya untuk memerangi musuhnya. Kedua-duanya jihad. Uwais melakukan jihad itu dengan menentukan skala prioritas. Ia mulai berjihad dengan membahagiakan keluarganya terdekat. Baru setelah itu, ia berjihad untuk menghancurkan musuh-musuh kebenaran.

Pelajaran dari kisah di atas, kita memang harus memiliki skala prioritas. Jihad pun tidak hanya dalam medan perang, tetapi juga bisa ada dalam perjuangan kita untuk membahagiakan orangtua.