Salah paham pertama Nabi Musa as adalah kepada Nabi Khidir as. Semua orang Islam tahu kejadian-kejadian antara mereka berdua. Khidir membocorkan kapal yang mereka naiki, kemudian mencekik anak kecil, terakhir menegakkan pagar rumah seseorang. Musa bertanya-tanya terus: kenapa kapal dibocorkan, kok anak itu beliau bunuh, wong tidak disuruh kok mau-maunya memperbaiki pagar itu.
Khidir menjelaskan kepada Musa bahwa dengan rusaknya kapal itu, penumpangnya terlindung dari rencana perampokan para bajak laut yang sebenarnya sebentar lagi akan terjadi. Anak kecil itu ia bunuh karena kelak ketika ia besar akan menjadi kafir kriminal sehingga bapak dan ibunya akan kalah dan ikut menjadi kafir kriminal. Dengan dibunuh, anak itu akan masuk surga dan bapak-ibunya juga batal menjadi kafir kriminal. Pagar yang Khidir tegakkan untuk menghindarkan kecurigaan para kapitalis yang beritikad merebutnya karena di bawah pagar itu terdapat simpanan harta luar biasa besar.
Selain itu, Nabi Musa juga pernah salah paham terhadap seorang gembala yang bersemangat bebas. Dia tidak punya uang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya. Yang dia miliki hanyalah hati yang lembut dan penuh keikhlasan; hati yang berdetak dengan kecintaan kepada Tuhan. Sepanjang hari dia menggembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan nuraninya kepada Tuhan yang dicintainya. "Duhai Pangeran tercinta, di manakah Engkau, supaya aku bisa persembahkan seluruh hidupku pada-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku bisa menghambakan diriku pada-Mu? Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernapas. Karena berkat-Mu aku hidup. Aku ingin mengorbankan dombaku ke hadapan kemuliaan-Mu."
Suatu hari, Nabi Musa as melewati padang gembalaan tersebut dalam perjalanannya menuju kota. Ia memerhatikan sang gembala yang sedang duduk di tengah ternaknya dengan kepala mendongak ke langit. Sang gembala menyapa Tuhan, "Ah, di manakah Engkau, supaya aku bisa menjahit baju-Mu, memperbaiki kasut-Mu, dan mempersiapkan ranjang-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku bisa menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku bisa mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu?"
Musa mendekati gembala itu dan bertanya, "Dengan siapa kamu berbicara?" Gembala menjawab, "Dengan Dia yang telah menciptakan kita. Dengan dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan malam, bumi dan langit." Mendengar jawaban gembala Musa menjadi murka. "Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumpal mulutmu dengan kapas supaya kamu bisa mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak akan marah dan tersinggung dengan kata-katamu, yang telah meracuni angkasa ini. Kau harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan mengukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosa-dosamu."
Sang gembala segera bangkit setelah mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang nabi. Dia bergetar ketakutan. Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, dia mendengarkan Musa yang terus berkata, "Apakah Tuhan adalah seorang manusia bisa, sehingga Dia harus memakai sepatu dan kaus kaki? Apakah Tuhan seorang anak kecil, yang memerlukan susu supaya Dia tumbuh besar? Tentu saja tidak. Tuhan Mahasempurna dalam diri-Nya. Tuhan tidak memerlukan siapa pun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki otak yang sehat!"
Gembala yang sederhana itu tidak mengerti bahwa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia juga tak mengerti mengapa Nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh, tapi dia tahu betul bahwa seorang Nabi pastilah lebih mengetahui dari siapa pun. Dia hampir tak bisa menahan tangisnya. Dia berkata kepada Musa, "Kau telah menyalakan api di dalam jiwaku. Sejak kini aku berjanji akan mengatupkan mulutku untuk selamanya." Dengan keluhan yang panjang, dia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.
Dengan perasaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat, Nabi Musa as melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba-tiba Allah yang Mahakuasa menegurnya, "Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pencinta dari yang dicintainya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau bisa menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di antaranya." Musa mendengarkan kata-kata langit itu dengan penuh kerendahan dan rasa takut. Tuhan berfirman, "Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoleh keuntungan darinya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak membutuhkan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memerhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna."
Suara dari langit itu selanjutnya berkata, "Mereka yang terikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta. Dan umat beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri." Tuhan kemudian mengajarkan Musa rahasia cinta.
Setelah memperoleh pelajar, Musa mengerti akan kesalahannya. Sang Nabi menderita penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, dia mencari gembala untuk meminta maaf.
Salah paham, memang bisa dialami siapa saja. Yang penting, kita segera menyadari sebagaimana Nabi Musa... apalagi kepada kita sudah datang petunjuk yang jelas. Tapi yah itulah beda kita dengan Nabi. Mereka beroleh wahyu yang turun langsung dari Allah tidak seperti kita. Walau manusia biasa juga dianugerahi akal sehat dan hati nurani. Wallahualam bi shawab.
Referensi dari tulisan di atas: 1. Artikel Emha Ainun Nadjib, Mencekik Orang Sesat
2. Buku Jalaluddin Rakhmat, The Road To Allah