Sabtu, 19 Maret 2011
Cara Ganti URL Facebook Kita
Mudah saja. Cara ganti URL kunjungi: http://www.facebook.com/username/
Kamis, 17 Maret 2011
Nabi Musa pun Kadang Salah Paham, Apalagi Kita?
Salah paham pertama Nabi Musa as adalah kepada Nabi Khidir as. Semua orang Islam tahu kejadian-kejadian antara mereka berdua. Khidir membocorkan kapal yang mereka naiki, kemudian mencekik anak kecil, terakhir menegakkan pagar rumah seseorang. Musa bertanya-tanya terus: kenapa kapal dibocorkan, kok anak itu beliau bunuh, wong tidak disuruh kok mau-maunya memperbaiki pagar itu.
Khidir menjelaskan kepada Musa bahwa dengan rusaknya kapal itu, penumpangnya terlindung dari rencana perampokan para bajak laut yang sebenarnya sebentar lagi akan terjadi. Anak kecil itu ia bunuh karena kelak ketika ia besar akan menjadi kafir kriminal sehingga bapak dan ibunya akan kalah dan ikut menjadi kafir kriminal. Dengan dibunuh, anak itu akan masuk surga dan bapak-ibunya juga batal menjadi kafir kriminal. Pagar yang Khidir tegakkan untuk menghindarkan kecurigaan para kapitalis yang beritikad merebutnya karena di bawah pagar itu terdapat simpanan harta luar biasa besar.
Selain itu, Nabi Musa juga pernah salah paham terhadap seorang gembala yang bersemangat bebas. Dia tidak punya uang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya. Yang dia miliki hanyalah hati yang lembut dan penuh keikhlasan; hati yang berdetak dengan kecintaan kepada Tuhan. Sepanjang hari dia menggembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan nuraninya kepada Tuhan yang dicintainya. "Duhai Pangeran tercinta, di manakah Engkau, supaya aku bisa persembahkan seluruh hidupku pada-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku bisa menghambakan diriku pada-Mu? Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernapas. Karena berkat-Mu aku hidup. Aku ingin mengorbankan dombaku ke hadapan kemuliaan-Mu."
Suatu hari, Nabi Musa as melewati padang gembalaan tersebut dalam perjalanannya menuju kota. Ia memerhatikan sang gembala yang sedang duduk di tengah ternaknya dengan kepala mendongak ke langit. Sang gembala menyapa Tuhan, "Ah, di manakah Engkau, supaya aku bisa menjahit baju-Mu, memperbaiki kasut-Mu, dan mempersiapkan ranjang-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku bisa menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku bisa mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu?"
Musa mendekati gembala itu dan bertanya, "Dengan siapa kamu berbicara?" Gembala menjawab, "Dengan Dia yang telah menciptakan kita. Dengan dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan malam, bumi dan langit." Mendengar jawaban gembala Musa menjadi murka. "Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumpal mulutmu dengan kapas supaya kamu bisa mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak akan marah dan tersinggung dengan kata-katamu, yang telah meracuni angkasa ini. Kau harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan mengukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosa-dosamu."
Sang gembala segera bangkit setelah mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang nabi. Dia bergetar ketakutan. Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, dia mendengarkan Musa yang terus berkata, "Apakah Tuhan adalah seorang manusia bisa, sehingga Dia harus memakai sepatu dan kaus kaki? Apakah Tuhan seorang anak kecil, yang memerlukan susu supaya Dia tumbuh besar? Tentu saja tidak. Tuhan Mahasempurna dalam diri-Nya. Tuhan tidak memerlukan siapa pun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki otak yang sehat!"
Gembala yang sederhana itu tidak mengerti bahwa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia juga tak mengerti mengapa Nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh, tapi dia tahu betul bahwa seorang Nabi pastilah lebih mengetahui dari siapa pun. Dia hampir tak bisa menahan tangisnya. Dia berkata kepada Musa, "Kau telah menyalakan api di dalam jiwaku. Sejak kini aku berjanji akan mengatupkan mulutku untuk selamanya." Dengan keluhan yang panjang, dia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.
Dengan perasaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat, Nabi Musa as melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba-tiba Allah yang Mahakuasa menegurnya, "Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pencinta dari yang dicintainya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau bisa menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di antaranya." Musa mendengarkan kata-kata langit itu dengan penuh kerendahan dan rasa takut. Tuhan berfirman, "Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoleh keuntungan darinya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak membutuhkan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memerhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna."
Suara dari langit itu selanjutnya berkata, "Mereka yang terikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta. Dan umat beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri." Tuhan kemudian mengajarkan Musa rahasia cinta.
Setelah memperoleh pelajar, Musa mengerti akan kesalahannya. Sang Nabi menderita penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, dia mencari gembala untuk meminta maaf.
Salah paham, memang bisa dialami siapa saja. Yang penting, kita segera menyadari sebagaimana Nabi Musa... apalagi kepada kita sudah datang petunjuk yang jelas. Tapi yah itulah beda kita dengan Nabi. Mereka beroleh wahyu yang turun langsung dari Allah tidak seperti kita. Walau manusia biasa juga dianugerahi akal sehat dan hati nurani. Wallahualam bi shawab.
Referensi dari tulisan di atas: 1. Artikel Emha Ainun Nadjib, Mencekik Orang Sesat
2. Buku Jalaluddin Rakhmat, The Road To Allah
Khidir menjelaskan kepada Musa bahwa dengan rusaknya kapal itu, penumpangnya terlindung dari rencana perampokan para bajak laut yang sebenarnya sebentar lagi akan terjadi. Anak kecil itu ia bunuh karena kelak ketika ia besar akan menjadi kafir kriminal sehingga bapak dan ibunya akan kalah dan ikut menjadi kafir kriminal. Dengan dibunuh, anak itu akan masuk surga dan bapak-ibunya juga batal menjadi kafir kriminal. Pagar yang Khidir tegakkan untuk menghindarkan kecurigaan para kapitalis yang beritikad merebutnya karena di bawah pagar itu terdapat simpanan harta luar biasa besar.
Selain itu, Nabi Musa juga pernah salah paham terhadap seorang gembala yang bersemangat bebas. Dia tidak punya uang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya. Yang dia miliki hanyalah hati yang lembut dan penuh keikhlasan; hati yang berdetak dengan kecintaan kepada Tuhan. Sepanjang hari dia menggembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan nuraninya kepada Tuhan yang dicintainya. "Duhai Pangeran tercinta, di manakah Engkau, supaya aku bisa persembahkan seluruh hidupku pada-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku bisa menghambakan diriku pada-Mu? Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernapas. Karena berkat-Mu aku hidup. Aku ingin mengorbankan dombaku ke hadapan kemuliaan-Mu."
Suatu hari, Nabi Musa as melewati padang gembalaan tersebut dalam perjalanannya menuju kota. Ia memerhatikan sang gembala yang sedang duduk di tengah ternaknya dengan kepala mendongak ke langit. Sang gembala menyapa Tuhan, "Ah, di manakah Engkau, supaya aku bisa menjahit baju-Mu, memperbaiki kasut-Mu, dan mempersiapkan ranjang-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku bisa menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku bisa mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu?"
Musa mendekati gembala itu dan bertanya, "Dengan siapa kamu berbicara?" Gembala menjawab, "Dengan Dia yang telah menciptakan kita. Dengan dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan malam, bumi dan langit." Mendengar jawaban gembala Musa menjadi murka. "Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumpal mulutmu dengan kapas supaya kamu bisa mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak akan marah dan tersinggung dengan kata-katamu, yang telah meracuni angkasa ini. Kau harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan mengukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosa-dosamu."
Sang gembala segera bangkit setelah mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang nabi. Dia bergetar ketakutan. Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, dia mendengarkan Musa yang terus berkata, "Apakah Tuhan adalah seorang manusia bisa, sehingga Dia harus memakai sepatu dan kaus kaki? Apakah Tuhan seorang anak kecil, yang memerlukan susu supaya Dia tumbuh besar? Tentu saja tidak. Tuhan Mahasempurna dalam diri-Nya. Tuhan tidak memerlukan siapa pun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki otak yang sehat!"
Gembala yang sederhana itu tidak mengerti bahwa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia juga tak mengerti mengapa Nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh, tapi dia tahu betul bahwa seorang Nabi pastilah lebih mengetahui dari siapa pun. Dia hampir tak bisa menahan tangisnya. Dia berkata kepada Musa, "Kau telah menyalakan api di dalam jiwaku. Sejak kini aku berjanji akan mengatupkan mulutku untuk selamanya." Dengan keluhan yang panjang, dia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.
Dengan perasaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat, Nabi Musa as melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba-tiba Allah yang Mahakuasa menegurnya, "Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pencinta dari yang dicintainya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau bisa menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di antaranya." Musa mendengarkan kata-kata langit itu dengan penuh kerendahan dan rasa takut. Tuhan berfirman, "Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoleh keuntungan darinya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak membutuhkan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memerhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna."
Suara dari langit itu selanjutnya berkata, "Mereka yang terikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta. Dan umat beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri." Tuhan kemudian mengajarkan Musa rahasia cinta.
Setelah memperoleh pelajar, Musa mengerti akan kesalahannya. Sang Nabi menderita penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, dia mencari gembala untuk meminta maaf.
Salah paham, memang bisa dialami siapa saja. Yang penting, kita segera menyadari sebagaimana Nabi Musa... apalagi kepada kita sudah datang petunjuk yang jelas. Tapi yah itulah beda kita dengan Nabi. Mereka beroleh wahyu yang turun langsung dari Allah tidak seperti kita. Walau manusia biasa juga dianugerahi akal sehat dan hati nurani. Wallahualam bi shawab.
Referensi dari tulisan di atas: 1. Artikel Emha Ainun Nadjib, Mencekik Orang Sesat
2. Buku Jalaluddin Rakhmat, The Road To Allah
Rabu, 16 Maret 2011
Eminem, Manusia Terpopuler di Facebook Ini Menjalani Dunia Tanpa Sekolah
Eminem, Orang Terpopuler di Facebook selengkapnya dapat dibaca disini.
Cuplikan kisah EMINEM:
Sebagai remaja yang masih mencari identitas, ia mengalami ketidak stabilan diri. Ditambah bergaul dengan anak-anak jalanan. Ia mulai doyan nongkrong bareng teman-temannya. Bahkan mulai bolos sekolah sampai nggak naik kelas. Akhirnya ia dikeluarkan dari sekolah. Tanpa kecakapan apa pun, Eminem mulai memasuki kehidupan nyata yang keras. Ia kerja serabutan. Sadar pekerjaannya tidak mampu menghasilkan apa-apa, ia memutuskan untuk memperdalam kemampuan menulis syair. Ia pun berharap kelak bisa menjadi penyanyi tenar.
Meski nggak lulus SMU, Eminem mengakui pernah berusaha kembali ke sekolah. “Namun, entahlah saya sukar untuk kembali ke arah itu. Dalam pikiran saya yang ada cuma keinginan menyanyi dan jadi bintang rap,” Hmm. Dalam bukuku Dunia Tanpa Sekolah, mulut remajaku yang agak sok tahu sempat menyinggung tentang KEKUATAN FOKUS! Eminem membuktikan apa yang aku ungkapkan ada benarnya juga.
Selengkapnya tentang Eminem dapat dibaca disini.
Cuplikan kisah EMINEM:
Sebagai remaja yang masih mencari identitas, ia mengalami ketidak stabilan diri. Ditambah bergaul dengan anak-anak jalanan. Ia mulai doyan nongkrong bareng teman-temannya. Bahkan mulai bolos sekolah sampai nggak naik kelas. Akhirnya ia dikeluarkan dari sekolah. Tanpa kecakapan apa pun, Eminem mulai memasuki kehidupan nyata yang keras. Ia kerja serabutan. Sadar pekerjaannya tidak mampu menghasilkan apa-apa, ia memutuskan untuk memperdalam kemampuan menulis syair. Ia pun berharap kelak bisa menjadi penyanyi tenar.
Meski nggak lulus SMU, Eminem mengakui pernah berusaha kembali ke sekolah. “Namun, entahlah saya sukar untuk kembali ke arah itu. Dalam pikiran saya yang ada cuma keinginan menyanyi dan jadi bintang rap,” Hmm. Dalam bukuku Dunia Tanpa Sekolah, mulut remajaku yang agak sok tahu sempat menyinggung tentang KEKUATAN FOKUS! Eminem membuktikan apa yang aku ungkapkan ada benarnya juga.
Selengkapnya tentang Eminem dapat dibaca disini.
Uwais Al-Qarny, Menurut Ustadz Jalaluddin Rakhmat
Tulisan yang ada di bawah ini saya kutip dari buku The Road To Allah karya Jalaluddin Rakhmat, halaman 85-86, tanpa saya kurangi atau tambahi:
Pada zaman Nabi Saw., ada seorang anak muda yang tinggal di Yaman. Ia tidak pernah berjumpa dengan Nabi Saw. Tetapi pada suatu hari Rasulullah Saw. bersabda kepada sahabat-sahabatnya, "Aku mencium napas Rahman dari Yaman. Aku mencium embusan Tuhan yang Maha Pengasih dari Yaman." Ia berpesan kepada para sahabatnya agar menyapaikan pesan dan salam beliau kepadanya, kelak sepeninggal beliau. Dalam riwayat para sufi bahkan dikisahkan bahwa Nabi berwasiat agar pakaian yang dikenakan pada akhir hayatnya dihadiahkan kepadanya. Pada zaman pemerintahan 'Umar, ia datang ke Madinah. Begitu ia mendengar salam Nabi, ia pingsan. Kelak, pada zaman 'Ali, ia berperang di pihak 'Ali. Ia dahulu tidak sempat ikut berperang bersama Nabi Saw. karena berkhidmat kepada orangtuanya yang sudah tua renta. Lelaki ini dikenal dalam dunia tasawuf sebagai Uwais Al-Qarni, salah seorang wali Allah yang besar. Ia baru sempat berjihad bersama 'Ali bin Abi Thalib setelah kedua orangtuanya meninggal dunia.
Uwais mencari surga di bawah telapak kaki ibunya, sebelum mencari surga di bawah kilatan pedang. Ia mencurahkan keringatnya untuk membahagiakan ibunya sebelum menumpahkan darahnya untuk memerangi musuhnya. Kedua-duanya jihad. Uwais melakukan jihad itu dengan menentukan skala prioritas. Ia mulai berjihad dengan membahagiakan keluarganya terdekat. Baru setelah itu, ia berjihad untuk menghancurkan musuh-musuh kebenaran.
Pelajaran dari kisah di atas, kita memang harus memiliki skala prioritas. Jihad pun tidak hanya dalam medan perang, tetapi juga bisa ada dalam perjuangan kita untuk membahagiakan orangtua.
Pada zaman Nabi Saw., ada seorang anak muda yang tinggal di Yaman. Ia tidak pernah berjumpa dengan Nabi Saw. Tetapi pada suatu hari Rasulullah Saw. bersabda kepada sahabat-sahabatnya, "Aku mencium napas Rahman dari Yaman. Aku mencium embusan Tuhan yang Maha Pengasih dari Yaman." Ia berpesan kepada para sahabatnya agar menyapaikan pesan dan salam beliau kepadanya, kelak sepeninggal beliau. Dalam riwayat para sufi bahkan dikisahkan bahwa Nabi berwasiat agar pakaian yang dikenakan pada akhir hayatnya dihadiahkan kepadanya. Pada zaman pemerintahan 'Umar, ia datang ke Madinah. Begitu ia mendengar salam Nabi, ia pingsan. Kelak, pada zaman 'Ali, ia berperang di pihak 'Ali. Ia dahulu tidak sempat ikut berperang bersama Nabi Saw. karena berkhidmat kepada orangtuanya yang sudah tua renta. Lelaki ini dikenal dalam dunia tasawuf sebagai Uwais Al-Qarni, salah seorang wali Allah yang besar. Ia baru sempat berjihad bersama 'Ali bin Abi Thalib setelah kedua orangtuanya meninggal dunia.
Uwais mencari surga di bawah telapak kaki ibunya, sebelum mencari surga di bawah kilatan pedang. Ia mencurahkan keringatnya untuk membahagiakan ibunya sebelum menumpahkan darahnya untuk memerangi musuhnya. Kedua-duanya jihad. Uwais melakukan jihad itu dengan menentukan skala prioritas. Ia mulai berjihad dengan membahagiakan keluarganya terdekat. Baru setelah itu, ia berjihad untuk menghancurkan musuh-musuh kebenaran.
Pelajaran dari kisah di atas, kita memang harus memiliki skala prioritas. Jihad pun tidak hanya dalam medan perang, tetapi juga bisa ada dalam perjuangan kita untuk membahagiakan orangtua.
Uwais Al-Qarny, Menurut Wikipedia
Uwais Al-Qarny, betapa banyaknya pelajaran yang bisa diambil dari wali Allah yang satu ini. Aku bahkan tak segan mengkopi paste dari wikipedia karena aku tak bisa menggambarkan beliau lebih baik daripada wikipedia.
Tak usah banyak basa-basi, simak tulisan di bawah ini, untuk mengetahui perihal Uwais Al-Qarny, menurut wikipedia:
Uwais Al-Qarny (Arab: أويس القرني) (meninggal 657) adalah penduduk dari Qaran di Yaman.
KEUTAMAAN UWAIS AL-QORNI
Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa'at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa'at sejumlah qobilah Robi'ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah "Uwais al-Qarni". Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha' negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata, "Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri".
BIOGRAFI
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al-Qur'an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah "bertamu dan bertemu" dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi Pertempuran Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat?
Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya.
Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata, "Pergilah wahai anakku! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang". Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina 'Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais.
Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang.
Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman," Engkau harus lekas pulang".
Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina 'Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina 'Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina 'Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.
Rasulullah SAW bersabda : "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya." Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. dan sayyidina [[Umar bin Khattab] r.a. dan bersabda, "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi".
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Ia segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.
Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan salat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? "Abdullah", jawab Uwais.
Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan, "Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?" Uwais kemudian berkata, "Nama saya Uwais al-Qorni".
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo'akan untuk mereka.
Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah, "Sayalah yang harus meminta do'a kepada kalian". Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, "Kami datang ke sini untuk mohon do'a dan istighfar dari anda".
Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo'a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata, "Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi".
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais, waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan salat di atas air.
Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. "Wahai waliyullah," Tolonglah kami!" tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi, "Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!" Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata,
"Apa yang terjadi ?"
"Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?" tanya kami.
"Dekatkanlah diri kalian pada Allah!" katanya.
"Kami telah melakukannya."
"Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaani rrohiim!"
Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.
Lalu orang itu berkata pada kami ,"Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat". "Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? "Tanya kami.
"Uwais al-Qorni". Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, "Sesungguhnya harta yang ada dikapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir."
"Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?" tanyanya.
"Ya, "jawab kami. Orang itu pun melaksanakan salat dua rakaat di atas air, lalu berdo'a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke Rahmatullah.
Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.
Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, "ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.
Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, "Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa "Uwais al-Qorni" ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.
Salah satu pelajaran dari kisah di atas adalah, pertemuan secara fisik memang penting tetapi bukan yang ter-. Uwais belum pernah bertemu dengan Nabi tapi Uwais sangatlah taat kepada ajaran beliau dan itulah justru yang terpenting.
Pelajaran yang lain dari kisah di atas, memang banyak sekali tetapi lebih baik pikirkan di benak masing-masing saja.
Tak usah banyak basa-basi, simak tulisan di bawah ini, untuk mengetahui perihal Uwais Al-Qarny, menurut wikipedia:
Uwais Al-Qarny (Arab: أويس القرني) (meninggal 657) adalah penduduk dari Qaran di Yaman.
KEUTAMAAN UWAIS AL-QORNI
Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa'at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa'at sejumlah qobilah Robi'ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah "Uwais al-Qarni". Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha' negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata, "Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri".
BIOGRAFI
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al-Qur'an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah "bertamu dan bertemu" dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi Pertempuran Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat?
Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya.
Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata, "Pergilah wahai anakku! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang". Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina 'Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais.
Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang.
Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman," Engkau harus lekas pulang".
Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina 'Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina 'Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina 'Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.
Rasulullah SAW bersabda : "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya." Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. dan sayyidina [[Umar bin Khattab] r.a. dan bersabda, "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi".
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Ia segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.
Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan salat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? "Abdullah", jawab Uwais.
Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan, "Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?" Uwais kemudian berkata, "Nama saya Uwais al-Qorni".
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo'akan untuk mereka.
Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah, "Sayalah yang harus meminta do'a kepada kalian". Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, "Kami datang ke sini untuk mohon do'a dan istighfar dari anda".
Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo'a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata, "Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi".
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais, waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan salat di atas air.
Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. "Wahai waliyullah," Tolonglah kami!" tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi, "Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!" Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata,
"Apa yang terjadi ?"
"Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?" tanya kami.
"Dekatkanlah diri kalian pada Allah!" katanya.
"Kami telah melakukannya."
"Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaani rrohiim!"
Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.
Lalu orang itu berkata pada kami ,"Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat". "Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? "Tanya kami.
"Uwais al-Qorni". Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, "Sesungguhnya harta yang ada dikapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir."
"Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?" tanyanya.
"Ya, "jawab kami. Orang itu pun melaksanakan salat dua rakaat di atas air, lalu berdo'a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke Rahmatullah.
Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.
Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, "ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.
Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, "Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa "Uwais al-Qorni" ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.
Salah satu pelajaran dari kisah di atas adalah, pertemuan secara fisik memang penting tetapi bukan yang ter-. Uwais belum pernah bertemu dengan Nabi tapi Uwais sangatlah taat kepada ajaran beliau dan itulah justru yang terpenting.
Pelajaran yang lain dari kisah di atas, memang banyak sekali tetapi lebih baik pikirkan di benak masing-masing saja.
Selasa, 15 Maret 2011
Motivasi Buat Praktisi Perbukuan (Khususnya Penulis)
... Sebaliknya, penulis seharusnya juga menjadi pemasar bagi bukunya sendiri karena sebenarnya penulis juga seniman. Penulis yang kreatif akan menjadikan bukunya sebagai produk yang baginya harus bisa laku di pasaran. Meskipun pada dasarnya buku adalah bukan barang komersial, tetapi memandang buku sebagai sebuah produk berilmu yang pelu dipasarkan adalah sebuah hal yang perlu dilakukan saat ini.
Menjadi penulis sukses bukan berarti tidak ada hambatan.Menurut Radith, hambatan bukan hanya dari industri buku, melainkan juga dari hal-hal yang sifatnya diagonal. Artinya, lawan dari industri buku bisa jadi bukan industri buku lain tapi industri lain yang sebenarnya tidak berhubungan sama sekali seperti hiburan (entertainment), makanan, dan lain-lain. Sebagai contoh, bila ada anak muda memiliki uang 50.000 rupiah, belum tentu ia akan membelanjakannya untuk buku. Bisa jadi uang itu digunakan untuk menonton film di bioskop atau membeli makanan cepat saji. Dan yang jelas, buku bukan pilihan utama.
Bagi Radith hal ini memang sudah lazim. Yang perlu dilakukan adalah terus berkreasi dan bertindak kreatif. Baginya, kompetisi yang ada adalah kunci untuk berinovasi. Tekanan kompetitor bisa menjadi motivasi untuk terus memberikan ide-ide baru dan menggali kemampuan. (Wikipedia tentang Raditya Dhika, penulis buku best seller Kambing Jantan.)
Jualan buku beda dengan jualan tumpukan kertas. Karena untuk menulis buku harus research dokumentasi yang panjang: kliping, buku, perpustakaan, search website, eksperimentasi dan untuk itu bukan sesuatu yang murah baik secara ekonomis maupun sosial (waktu, perhatian, dan lain-lain). (Agus M. Irkham, praktisi perbukuan Indonesia)
Saat Anda menjual buku kepada seseorang, Anda tidak menjual kepadanya 12 ons kertas, tinta, dan lem--Anda menawarkan suatu kehidupan yang sama sekali baru -CHRISTOPHER MORLEY-
Menjadi penulis sukses bukan berarti tidak ada hambatan.Menurut Radith, hambatan bukan hanya dari industri buku, melainkan juga dari hal-hal yang sifatnya diagonal. Artinya, lawan dari industri buku bisa jadi bukan industri buku lain tapi industri lain yang sebenarnya tidak berhubungan sama sekali seperti hiburan (entertainment), makanan, dan lain-lain. Sebagai contoh, bila ada anak muda memiliki uang 50.000 rupiah, belum tentu ia akan membelanjakannya untuk buku. Bisa jadi uang itu digunakan untuk menonton film di bioskop atau membeli makanan cepat saji. Dan yang jelas, buku bukan pilihan utama.
Bagi Radith hal ini memang sudah lazim. Yang perlu dilakukan adalah terus berkreasi dan bertindak kreatif. Baginya, kompetisi yang ada adalah kunci untuk berinovasi. Tekanan kompetitor bisa menjadi motivasi untuk terus memberikan ide-ide baru dan menggali kemampuan. (Wikipedia tentang Raditya Dhika, penulis buku best seller Kambing Jantan.)
Jualan buku beda dengan jualan tumpukan kertas. Karena untuk menulis buku harus research dokumentasi yang panjang: kliping, buku, perpustakaan, search website, eksperimentasi dan untuk itu bukan sesuatu yang murah baik secara ekonomis maupun sosial (waktu, perhatian, dan lain-lain). (Agus M. Irkham, praktisi perbukuan Indonesia)
Saat Anda menjual buku kepada seseorang, Anda tidak menjual kepadanya 12 ons kertas, tinta, dan lem--Anda menawarkan suatu kehidupan yang sama sekali baru -CHRISTOPHER MORLEY-
Kata Mutiara Agus Wahyudi
Siapakah Agus Wahyudi? Aku tidak tahu. Aku tidak mau tahu. Dan tidak akan mencari tahu. Yang aku kagumi adalah kata-kata yang dituliskannya dalam suatu forum di Facebook. Kukutip disini, tanpa saya tambahi atau kurangi: Dunia tanpa sekolah HANYA bisa terwujud apabila para orang tua bisa sekaligus mengambil peran sebagai GURU terhadap pendidikan putra-putrinya. Untuk mewujudkan hal itu, perlu kesadaran ILMU yang kompeten dari tiap-tiap orang tua agar bisa membekali putra-putri mereka dengan ilmu yang bermanfaat yang bisa menjadi bekal hidup mereka kelak setelah dewasa dan bisa hidup lebih mandiri...
Keren kan? Aku juga kaget ada yang mengeluarkan statement seperti itu.
Keren kan? Aku juga kaget ada yang mengeluarkan statement seperti itu.
Jumat, 11 Maret 2011
Pelajaran Baru Dari Kang Jalal
Dalam bukunya yang luar biasa, yang dikasih judul The Road To Allah, Kang Jalal menulis di halaman 195 sebagai berikut,
... Karena di dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang berlaku dalam konteks tertentu, tetapi tidak pada konteks yang lain (nasikh-mansukh) ...
Sebetulnya banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil dan bagikan dalam buku ini. Namun sepertinya aku harus memindahkan keseluruhan buku itu ke blog ini. Tentu saja hal konyol tersebut tidak akan aku lakukan.
Jika ingin mengetahui sinopsis The Road To Allah dapat dibaca disini
... Karena di dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang berlaku dalam konteks tertentu, tetapi tidak pada konteks yang lain (nasikh-mansukh) ...
Sebetulnya banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil dan bagikan dalam buku ini. Namun sepertinya aku harus memindahkan keseluruhan buku itu ke blog ini. Tentu saja hal konyol tersebut tidak akan aku lakukan.
Jika ingin mengetahui sinopsis The Road To Allah dapat dibaca disini
Rabu, 09 Maret 2011
Ibu Rumah Tangga Profesi Mulia
Wanita dengan derajat paling tinggi adalah seorang ibu rumah tangga.
Hmm, pasti banyak yang mempertanyakan, darimana aku dapatkan informasi ini. Bagus sekali, karena itu memang termaktub dalam kitab suci Al-Qur'an, kitab petunjuk bagi seluruh umat manusia:
Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata, "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di alam semesta. Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'." (Surat Ali Imran: 42-43)
Ya, Bunda Maryam adalah seorang ibu rumah tangga, yang melahirkan, mendidik dan membesarkan manusia pejuang dan pengubah peradaban siapa lagi kalau bukan Nabi Isa Alaihis Salam.
Kesimpulan dari tulisan singkat ini adalah, ibu rumah tangga bukanlah profesi rendahan--namun sayangnya kok banyak sekali yang melakukan diskriminasi secara sadar atau tanpa sengaja ya? Kemarin aku baca di sebuah buku: Dia HANYA seorang Ibu rumah tangga. Dan percaya atau tidak itu adalah buku yang cukup terkenal di masyarakat tak perlu saya sebutkan judulnya. Menurut aku, berdasarkan kisah Bunda Maryam, jika seorang ibu rumah tangga dapat menunaikan amanahnya dengan baik niscaya akan beroleh tempat yang tinggi di sisi Allah.
Hmm, pasti banyak yang mempertanyakan, darimana aku dapatkan informasi ini. Bagus sekali, karena itu memang termaktub dalam kitab suci Al-Qur'an, kitab petunjuk bagi seluruh umat manusia:
Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata, "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di alam semesta. Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'." (Surat Ali Imran: 42-43)
Ya, Bunda Maryam adalah seorang ibu rumah tangga, yang melahirkan, mendidik dan membesarkan manusia pejuang dan pengubah peradaban siapa lagi kalau bukan Nabi Isa Alaihis Salam.
Kesimpulan dari tulisan singkat ini adalah, ibu rumah tangga bukanlah profesi rendahan--namun sayangnya kok banyak sekali yang melakukan diskriminasi secara sadar atau tanpa sengaja ya? Kemarin aku baca di sebuah buku: Dia HANYA seorang Ibu rumah tangga. Dan percaya atau tidak itu adalah buku yang cukup terkenal di masyarakat tak perlu saya sebutkan judulnya. Menurut aku, berdasarkan kisah Bunda Maryam, jika seorang ibu rumah tangga dapat menunaikan amanahnya dengan baik niscaya akan beroleh tempat yang tinggi di sisi Allah.
Selasa, 08 Maret 2011
Pelaku Pendidikan Nonformal, BUKTIKAN!!!
Anggota grup Dunia Tanpa Sekolah Facebook sebut saja Abdul Hamid posting sebuah status sebagai berikut: pendidikan nonformal masih dianak tirikan dibanding pendidikan formal karena banyak lulusan paket A, B, dan C yang sudah duduk dikursi empuk (jadi anggota dewan dan PNS) yang tdk mau disebut alumni paket, KASIHAN......
Aku berkomentar: Semoga saja para pelaku pendidikan nonformal dapat mendemonstrasikan betapa sesungguhnya mereka dapat sukses luar biasa tanpa mengandalkan ijazah sebagaimana Andrie Wongso (Sekolah Dasar Tidak Tamat Tapi Sukses jadi motivator no 1 Indonesia)...
kalau mau contoh lebih banyak buka tautan baru di halaman ini yaitu: http://www.bukukita.com/Agama/Islam/78460-Tanpa-Sekolah-Tapi-Sukses-:-Anak-Anak-Otodidak-Pengukir-Prestasi.html
Aku berkomentar: Semoga saja para pelaku pendidikan nonformal dapat mendemonstrasikan betapa sesungguhnya mereka dapat sukses luar biasa tanpa mengandalkan ijazah sebagaimana Andrie Wongso (Sekolah Dasar Tidak Tamat Tapi Sukses jadi motivator no 1 Indonesia)...
kalau mau contoh lebih banyak buka tautan baru di halaman ini yaitu: http://www.bukukita.com/Agama/Islam/78460-Tanpa-Sekolah-Tapi-Sukses-:-Anak-Anak-Otodidak-Pengukir-Prestasi.html
Mengapa Orang Masih Suka Sekolah Padahal Wacana Deschooling Terus Bermunculan?
Mas Agus Irkham mengajukan sebuah pertanyaan: Wacana deschooling terus bermunculan. Tapi yang berlangsung kemudian, bukan orang enggan bersekolah, sebaliknya. Semakin banyak orang yang merasa wajib sekolah. Gejala apa ini? Apa pasal? Bisa kasih jawaban?
Jawaban saya: @Mas Agus M. Irkham: Wacana tentang sekolah jauh lebih banyak dibanding wacana deschooling. Dan menurut hemat saya yang sudah mempraktekkan deschooling, sedikit lebih baik daripada tidak ada sama sekali... Juga, mayoritas belum tentu yang benar dan minoritas belum tentu keliru. Al-Qur'an seringkali menyebut "KEBANYAKAN dari mereka adalah orang-orang yang sesat". Dan minoritas, asalkan kuat dan bekerja keras dua kali lipat dibanding mayoritas, bisa membalikkan keadaan, demikian perkataan Zinedine Zidane... demikian pula pengalaman Nabi Muhammad, Yesus, Paulus, Walisongo, dst.
Belum lagi, setiap orang Insya Allah tidak akan sekolah terus seumur hidupnya--selama apapun dia sekolah. Mereka pasti akan menghadapi dunia nyata yang sesungguhnya. Paling sekolah itu berapa tahun sih? Memang ada yang menyelesaikannya sampai sarjana, S2, S3... Tapi sesungguhnya adalah hak setiap manusia untuk berhenti karena mengejar pencapaian di luar sekolah. Lihat saja, Pele, pesepakbola terbesar sepanjang masa--dia keluar sekolah pada saat kelas empat SD. Saya tantang sekarang: adakah sarjana atau profesor sekalipun yang kemampuan bermain bolanya dapat menandingi Pele???
Lalu, Agatha Christie, penulis wanita yang penjualan bukunya paling banyak sepanjang masa, bahkan belum pernah sekolah sama sekali. Adakah seorang sarjana atau profesor satu saja yang mampu menandingi penjualan buku sebanyak 2 Milyar dari seorang Agatha Christie? Saya belum menyebut Edison yang merupakan penemu terbesar sepanjang masa, hanya sekolah tiga bulan saja seumur hidupnya. Lalu Pramoedya Ananta Toer, seorang novelis Indonesia, SMP aja nggak tamat. Tapi apakah ada orang Indonesia yang pernah dinominasikan nobel 22 kali sebagaimana Pram??? Ternyata tidak ada. Saya belum menyebutkan Nabi dan Rasul yang adalah sebaik-baik manusia ... http://izzaahsansidqi.blogspot.com/2011/02/buku-best-seller-no-excuse-mendukung.html
Jika masih ada yang ingin diketahui mengenai deschooling, homeschooling, pendidikan luar sekolah, perusahaan sebagai tempat belajar paling baik, silakan dipelajari sendiri sebagaimana saya juga belajar sendiri.
Marconi, penemu radio, ternyata belajar di rumah.
Penemu telepon, Alexander Graham Bell, juga homeschooling.
Penemu pesawat ternyata sampai SMA saja...........................................
Jawaban saya: @Mas Agus M. Irkham: Wacana tentang sekolah jauh lebih banyak dibanding wacana deschooling. Dan menurut hemat saya yang sudah mempraktekkan deschooling, sedikit lebih baik daripada tidak ada sama sekali... Juga, mayoritas belum tentu yang benar dan minoritas belum tentu keliru. Al-Qur'an seringkali menyebut "KEBANYAKAN dari mereka adalah orang-orang yang sesat". Dan minoritas, asalkan kuat dan bekerja keras dua kali lipat dibanding mayoritas, bisa membalikkan keadaan, demikian perkataan Zinedine Zidane... demikian pula pengalaman Nabi Muhammad, Yesus, Paulus, Walisongo, dst.
Belum lagi, setiap orang Insya Allah tidak akan sekolah terus seumur hidupnya--selama apapun dia sekolah. Mereka pasti akan menghadapi dunia nyata yang sesungguhnya. Paling sekolah itu berapa tahun sih? Memang ada yang menyelesaikannya sampai sarjana, S2, S3... Tapi sesungguhnya adalah hak setiap manusia untuk berhenti karena mengejar pencapaian di luar sekolah. Lihat saja, Pele, pesepakbola terbesar sepanjang masa--dia keluar sekolah pada saat kelas empat SD. Saya tantang sekarang: adakah sarjana atau profesor sekalipun yang kemampuan bermain bolanya dapat menandingi Pele???
Lalu, Agatha Christie, penulis wanita yang penjualan bukunya paling banyak sepanjang masa, bahkan belum pernah sekolah sama sekali. Adakah seorang sarjana atau profesor satu saja yang mampu menandingi penjualan buku sebanyak 2 Milyar dari seorang Agatha Christie? Saya belum menyebut Edison yang merupakan penemu terbesar sepanjang masa, hanya sekolah tiga bulan saja seumur hidupnya. Lalu Pramoedya Ananta Toer, seorang novelis Indonesia, SMP aja nggak tamat. Tapi apakah ada orang Indonesia yang pernah dinominasikan nobel 22 kali sebagaimana Pram??? Ternyata tidak ada. Saya belum menyebutkan Nabi dan Rasul yang adalah sebaik-baik manusia ... http://izzaahsansidqi.blogspot.com/2011/02/buku-best-seller-no-excuse-mendukung.html
Jika masih ada yang ingin diketahui mengenai deschooling, homeschooling, pendidikan luar sekolah, perusahaan sebagai tempat belajar paling baik, silakan dipelajari sendiri sebagaimana saya juga belajar sendiri.
Marconi, penemu radio, ternyata belajar di rumah.
Penemu telepon, Alexander Graham Bell, juga homeschooling.
Penemu pesawat ternyata sampai SMA saja...........................................
Sabtu, 05 Maret 2011
Kevin Vierra Sempat Ogah Sekolah
Addie MS punya pengalaman kurang menyenangkan berkaitan dengan pendidikan anaknya, Kevin Aprilio. Dahulu Addie sempat berdebat soal keinginan Kevin untuk menempuh home schooling.
"Anak saya, Kevin, waktu kelas 2 SMA bertentangan dengan Memes. Kevin maunya home schooling. 'Saya berhenti besok,' kata Kevin. Bisa dibilang, itu pemberontakan," ungkap Addie, ditemui di Jalan H Ramli, Menteng Dalam, Jakarta, Jumat (22/1/2010).
'Pemberontakan' yang dilakukan personel Vierra band itu dianggap hal positif oleh Addie. Pasalnya, Kevin bisa membuktikan bahwa dengan home schooling Kevin bisa sukses.
"Saya bisa terima karena Kevin sama bandelnya dengan saya. Kalau enggak bandel, saya enggak mungkin bisa seperti ini. Dari delapan bersaudara, ada yang jadi dokter, insinyur. Saya sendiri yang kacau. Saya pilih musik yang di zaman saya enggak punya masa depan jelas," urai suami Memes ini.
Bagi komposer itu, sekolah bukan jaminan bisa sukses. Namun, tetap baginya pendidikan bagi anak merupakan hal penting.
"Jalan untuk menuju sukses banyak. Banyak jalan menuju Roma. Yang enggak lulus kuliah seperti Bill Gates saja bisa sukses," contohnya.
Sumber:
http://celebrity.okezone.com/read/2010/01/22/33/296832/kevin-vierra-berontak-ingin-home-schooling
"Anak saya, Kevin, waktu kelas 2 SMA bertentangan dengan Memes. Kevin maunya home schooling. 'Saya berhenti besok,' kata Kevin. Bisa dibilang, itu pemberontakan," ungkap Addie, ditemui di Jalan H Ramli, Menteng Dalam, Jakarta, Jumat (22/1/2010).
'Pemberontakan' yang dilakukan personel Vierra band itu dianggap hal positif oleh Addie. Pasalnya, Kevin bisa membuktikan bahwa dengan home schooling Kevin bisa sukses.
"Saya bisa terima karena Kevin sama bandelnya dengan saya. Kalau enggak bandel, saya enggak mungkin bisa seperti ini. Dari delapan bersaudara, ada yang jadi dokter, insinyur. Saya sendiri yang kacau. Saya pilih musik yang di zaman saya enggak punya masa depan jelas," urai suami Memes ini.
Bagi komposer itu, sekolah bukan jaminan bisa sukses. Namun, tetap baginya pendidikan bagi anak merupakan hal penting.
"Jalan untuk menuju sukses banyak. Banyak jalan menuju Roma. Yang enggak lulus kuliah seperti Bill Gates saja bisa sukses," contohnya.
Sumber:
http://celebrity.okezone.com/read/2010/01/22/33/296832/kevin-vierra-berontak-ingin-home-schooling
Pemeran Utama Film Obama Anak Menteng Ternyata Tak Pernah Sekolah
... Hasan juga mengaku belum pernah merasakan bangku sekolah, karena sang bapak lebih memilih homeschooling untuk pendidikannya. “Bapak lebih memilih homeschooling karena ia bisa mengetahui perkembangan saya lebih dekat, dan buat saya jadi lebih bebas mengatur waktu. Bagusnya homeschooling jadi lebih fleksibel bila harus main film,” tambah Hasan yang memiliki cita-cita jadi penyanyi dan aktor.
Sumber:
http://http://www.21cineplex.com/star/hasan-faruq-ali,1244.htm">www.21cineplex.com/star/hasan-faruq-ali,1244.htm">http://www.21cineplex.com/star/hasan-faruq-ali,1244.htm
Langganan:
Postingan (Atom)


