Posting ini merupakan materi presentasi saya dalam acara SEMPURNA (Seminar Pendidikan Untuk Negeri Tercinta) yang diselenggarakan di sebuah universitas di Bandung.
Sekolahku dulu, sekolah terfavorit di kotaku
Sebenarnya, saya agak bosan disuruh menceritakan tentang masa lalu saya. Saya sudah menceritakannya berulang-ulang di beragam forum yang mengundang saya. Antara lain di kota saya sendiri, Salatiga, di Semarang, Magelang, Banten, Surabaya, dan sekarang Alhamdulillah saya diundang ke Bandung. Bisa saya katakan kepada Anda semua, daripada saya mengulang kembali cerita: baca saja buku pertama saya, disitu sudah tertulis secara lengkap. Namun karena panitia meminta saya untuk berbicara perihal ini, akhirnya saya sanggupi. Ini juga sebagai rasa terima kasih saya telah diberi kesempatan berbicara dalam forum terhormat ini (waktu itu aku berbicara dihadapan puluhan guru, mahasiswa, dan juga umum).
Ketika itu saya baru berumur 14 tahun. Saya merasa tidak betah tinggal berlama-lama di sekolah. Saya memutuskan untuk keluar sekolah.
Bukan karena nakal, eh, saya tidak berani mengeluarkan klaim soal ini. Yang mengatakan saya tidak nakal adalah kepala sekolah saya sendiri. Dalam kesempatan ketika para siswa di seluruh sekolah berkumpul, yaitu upacara bendera, Pak kepala sekolah menjelaskan aku keluar sekolah bukan karena nakal melainkan karena ingin jadi penulis. Tidak hanya itu, saya keluar sekolah juga karena berbagai argumen yang cukup logis untuk anak remaja. Walaupun harus saya akui, waktu itu lebih banyak berdasarkan intuisi. Bukankah banyak sekali penemuan revolusioner didasarkan pada intuisi pada awalnya? Kemudian dalam perjalanan waktu, berbagai pengetahuan dan sumber daya yang mendukung akan datang sendiri mengikuti kesungguhan dan keyakinan dalam pencapaian keinginan kita.
Kisah tersebut saya tulis dalam buku pertama dan kedua saya: serial Dunia Tanpa Sekolah
Di sini saya tidak akan membahas kedua buku tersebut. Langsung saja ke pertanyaan:
MENGAPA SAYA KELUAR DARI SEKOLAH FORMAL?
Belajar cara sekolah formal itu sangat membebani saya. Mengapa?
Kurikulum sekolah memaksa saya untuk mempelajari sesuatu yang tidak saya minati dan tidak saya butuhkan saat itu. Dan mungkin juga tidak saya butuhkan untuk masa yang akan datang.
Target-target kurikulum tidak memberi saya kesempatan untuk menginternalisasikan pengetahuan dalam pikiran saya. Yang penting saya bisa mengerjakan tes-tes dari guru.
Ketika saya ingin mengeksplorasi sebuah pengetahuan, saya terpaksa menanggalkan keinginan tersebut karena saya harus belajar yang diwajibkan kurikulum sekolah. Padahal sebenarnya itu lebih penting dan boleh jadi lebih bermakna bagi saya.
Sampai disini saya jadi teringat dengan Thomas Alfa Edison, ilmuwan penemu paling berpengaruh sepanjang sejarah. Dulu waktu sekolah Edison kecil melihat hujan di luar kelas. Dia sangat ingin tahu mengapa bisa terjadi hujan. Maka dia bertanya pada Pak Guru. Tapi Pak guru merasa pertanyaan Edison jauh melenceng dari pelajarannya, maka Edison dimarahi dan disuruh keluar dari kelas karena dianggap anak kecil idiot. Einstein--fisikawan terbesar abad ke 20--juga begitu. Dia tak mau belajar biologi dan bahasa. Maunya dia Matematika dan Fisika. Silakan saja Anda menafsirkan saya orangnya GR membanding-bandingkan diri dengan Edison dan Einstein. Tapi saya pribadi beranggapan kalau Edison dan Einstein itu teladan saya, dalam hal tidak mau patuh dengan sistem pendidikan yang keliru. Dan tidak hanya itu, pada akhirnya mereka menemukan metode belajar sendiri, yang lebih canggih dibanding metode sekolahan.
Belajar cara sekolah formal membuat saya tidak memperoleh kenyamanan.
Duduk manis seharian di kelas dengan kondisi monoton, sunyi bak kuburan benar-benar membuat bete.
Guru yang tidak menyemangati dan menciptakan rasa tidak aman.
Sebagai catatan, Ayah saya yang bekerja sebagai pengajar para guru di Widyaiswara, juga punya pendapat sama: bahwa umumnya guru-guru di sekolah memang begitu.
Saya merasa pikiran saya diperlakukan seperti sebuah wadah yang terus menerus diisi oleh guru dengan pengetahuan-pengetahuan
Hal-hal tersebut antara lain yang membuat saya tidak betah di sekolah. Lalu apakah saya berhenti belajar?
Saya menemukan kenyataan bahwa banyak anak sekolah sebenarnya tidak belajar, sebaliknya banyak orang yang tidak sekolah tetapi belajar.
Artinya, saya bisa belajar tanpa harus sekolah formal. Saya memutuskan untuk belajar dengan caraku sendiri
Mulai saat itu saya memasuki "sekolah" baruku, yaitu: Sekolah Besar Kehidupan (SBK).
Atau boleh juga Anda sebut Universitas Kehidupan. Anda tahu Leonardo Di Caprio? Aktor terkenal yang banyak bermain di film-film besar Hollywood (juga baru saja dinobatkan sebagai aktor dengan bayaran termahal sedunia). Leo ternyata Homeschooling, dan setelah lulus SMA dengan tutor (artinya dia tidak datang ke sekolah tradisional), Leo tidak melanjutkan kuliah di universitas formal. Dia pernah berkata, "Sekarang kehidupan adalah universitasku."
Sekolah Besar Kehidupan, ciri-cirinya:
1. Ruang kelasku seluas dunia ini
2. Kurikulumnya berupa realitas kehidupan itu sendiri
3. Metodenya menyenangkan karena berangkat dari kesadaran bahwa hidup itu belajar
4. Guruku adalah siapapun dan apapun yang memberi saya petunjuk untuk menjadi manusia yang lebih baik. Soal guru ini ada dua pendapat unik yang pernah saya baca. Pertama, tulisan Ustadz Abu Sangkan dalam bukunya Berguru Pada Allah. Di situ Ustadz Abu berpendapat bahwa, "Tidak ada guru selain Allah." Berdasarkan ayat Al-Qur'an surat Al-Kahfi, "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tak mungkin ada seorang pun menyesatkan dia, dan barangsiapa disesatkan oleh-Nya, maka tak ada seorang pun dapat memberi petunjuk kepadanya." Selain itu, saya juga membaca tulisan Emha Ainun Nadjib, "Guru saya di dunia ini banyak, bahkan tak terbatas. Karena tidak ada mantan Guru, yang ada hanya yang sedang dan akan menjadi Guru. Tak ada seseorang atau sesuatupun yang pernah mengajari saya lantas tidak lagi menjadi Guru saya."
4. Kelulusanku adalah ketika saya mampu menyelesaikan masalah-masalah riil kehidupan.
5. Masa belajarku adalah selama hayat masih dikandung badan. Rasulullah bersabda, "Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat."
Yang kujalani sampai saat ini:
Orang tua melengkapi fasilitas sumber belajar berupa buku-buku di rumah. Buku bagus dimana-mana. Perihal ini saya ingin mengutip kata-kata Rene Descartes, filsuf besar Prancis, "Membaca buku yang baik itu adalah bagaikan mengadakan percakapan dengan cendekiawan paling cemerlang dari masa lampau--yakni para penulis itu. Ini semua bahkan merupakan percakapan berbobot lantaran dalam buku-buku itu mereka menuangkan gagasan-gagasan mereka yang terbaik semata-mata..."
INTERNET: salah satu sumber belajar dan informasi yang sangat baik dan juga merupakan sarana untuk menyebarkan ide-ide lewat tulisanku.
Yang ironis adalah, saya sempat membaca sebuah wacana baru dari Pak Hernowo, penulis dari Bandung, kota ini, bahwa Internet akan membunuh toko buku. Jadi bagaimanakah nasib penulis di era baru ini? Kita lihat saja nanti. Kehidupan memang dinamis dan tidak ada yang lebih pasti di dunia ini selain perubahan itu sendiri.
Nah... Saat-saat pertama saya memasuki SBK, saya merasakan kebebasan untuk mempelajari sesuatu sesuai yang saya inginkan, butuhkan dan menarik. Menurut saya; ini cara belajar yang membuat saya enjoy dan senang. Walaupun haru saya akui bahwa tetap ada sedihnya juga. Kan dunia memang begitu. Satu-satunya tempat di mana tak ada lagi kesedihan yang saya tahu adalah di surga. Dalam Al-Qur'an ada disebutkan kalau orang mukmin ketika pertama kali masuk surga akan berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami."
Kembali ke pokok pembicaraan: Seandainya saya masih sibuk dengan sekolah formal, mungkin saya belum mendapatkan makna pendidikan secara lebih luas sejak dini. Hasil eksplorasi saya tentang makna pendidikan semakin membuka pikiran saya bahwa pendidikan telah mengalami penyempitan makna.
Sekolah = Pendidikan
Pendidikan = Sekolah
Anak yang tidak sekolah walaupun ide, sikap dan perilakunya mencerminkan orang berpendidikan disebut anak yang tidak berpendidikan.
Orang yang sekolah sampai sarjana atau doktor, disebut berpendidikan walau sikap, perilaku, dan ide-idenya tidak menunjukkan orang yang berpendidikan.
Banyak orang yang mempercayai bahwa tanpa sekolah formal tidak mungkin bisa sukses. Kalau menurut saya, orang tidak sekolah bisa sukses, dan orang sekolahan belum tentu sukses. Sukses atau tidak bukan ditentukan oleh sekolah, tetapi diri sendiri.
Tetapi sayang, sudah terlanjur menjadi belief/kepercayaan kebanyakan orang sekolahan bahwa dengan sekolah pasti bisa menjadi sukses, minimal menjadi PNS, walaupun tidak sungguh-sungguh belajar.
Banyak orang tidak sekolah tapi sukses dan mereka menjadi role model saya.
Soal role model ini saya sempat posting sebuah tulisan (dalam seminar itu, saya membacakannya tapi kepada Anda para pembaca blog saya, silakan baca sendiri): http://izzaahsansidqi.blogspot.com/2011/06/role-model.html
Metode belajar yang saya lakukan
Cara belajar anak sekolahan adalah: ada seperangkat kurikulum yang harus dikuasai. Siswa mempelajar/diajari (suka atau tidak), lalu bukti menguasai materi adalah dengan evaluasi/tes harian/tes semester/ujian akhir/UN. Saya berangkat dari realitas kehidupan sehari-hari, yang saya alami sendiri atau dialami orang lain. Dari masalah-masalah tersebut saya mencari tahu dengan cara merujuk pada teori-teori yang tidak dibatas-batasi oleh sebuah kurikulum tertentu. Saya terus melakukan eksplorasi, elaborasi, dan akhirnya saya memperoleh pemahaman tentang sebuah masalah.
Atau berangkat dari sesuatu yang sangat saya minati, lalu saya berusaha untuk mengeksplorasi dan fokus untuk memperoleh pengetahuan akan hal tersebut sampai penghayatan dan pengamalan dalam kehidupan praktis.
Tidak seperti yang disarankan oleh kebanyakan guru sekolah formal: "Carilah ilmu sebanyak-banyaknya (maksudnya pengetahuan/kognitif), lalu setelah lulus, amalkan ilmu tersebut di masyarakat. Atau: "Sekarang ini saatnya kamu menimba ilmu, isi pikiranmu dengan berbagai pengetahuan, pada saatnya nanti kamu akan mengetahui kegunaannya.
Menurut saya belajar adalah lingkar siklus yang tak pernah habis Praktek - Pemaknaan - Pengetahuan - Praktek - Pengetahuan - Pemaknaan - dst. Saya sepakat dengan om Bob Sadino begawan entrepreneur Indonesia. Silakan cek selengkapnya dalam buku bestseller Belajar Goblok dari Bob Sadino.
Maka saya tidak akan mempelajari sesuatu yang belum nyambung dengan konteks kehidupan saya saat itu. Bagi saya belajar sesuatu yang tidak nyambung dengan kehidupan nyata berarti mengisi kehidupan nyata berarti mengisi pikiran dengan sampah. Walaupun menurut Bob Sadino, sampah itu juga bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dengan kreativitas dan kerja yang tak putus.
Bagaimana saya mengetahui hasil belajar saya?
Saya mengukur keberhasilan belajar saya bukan menggunakan tes/evaluasi tertulis, tetapi dengan melihat dan merasakan apakah ilmu yang saya peroleh sudah dapat merubah pikiran, perasaan, dan perilaku saya.
Anak sekolah banyak yang merayakan kelulusan seperti gambar di bawah ini:
Mereka menyebutnya sukses. Trus ada juga yang depresi karena tidak lulus dan menganggapnya bagaikan kiamat. Saya sendiri mengomentarinya dengan ayat Al-Qur'an: (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. (QS Al-Hadid ;22-23)
Lulus bagi saya adalah:
Ketika saya mampu menyelesaikan masalah kehidupan nyata secara kreatif berarti saya sudah lulus dalam konteks tertentu.
Saya meyakini bahwa ujian kehidupan itu jauh lebih penting daripada ujian nasional, yang hanya mengukur sebagian kecil dari sisi kemanusiaan. Anda bisa menghindar dari ujian nasional, tapi tidak ujian kehidupan
Saya meyakini bahwa ujian kelulusan itu tidak pernah berhenti sampai saya meninggalkan dunia ini dalam kondisi khusnul khatimah dan Allah ridha saya masuk ke dalam surga-Nya.
Saya tidak merasa takut memperoleh nilai yang buruk di raport atau ijazah. Saya bahkan juga tidak takut hidup tanpa ijazah, sebab memang saya tidak memerlukannya. Apakah ada kesombongan dalam hati saya ketika menyatakan pernyataan barusan? Hanya Allah yang tahu. Semoga tidak ada.
Kegagalan dalam belajar bukanlah "bencana", tetapi merupakan bagian dari proses belajar. Bukankah Edison juga gagal sebanyak 9999 kali sebelum menemukan bola lampu yang menerangi dunia? Itulah bukti bahwa anak manusia tidak dapat menghindar dari kegagalan.
Boleh jadi apa yang saya lakukan ini aneh menurut orang lain. Bagi saya tidak demikian, tetapi sebuah pilihan dari sekian pilihan manusia dalam kebebasannya untuk mengembangkan potensinya.
Sekolah atau tidak sekolah adalah pilihan. Tetapi pendidikan/belajar adalah kebutuhan hidup manusia. Sekolah atau tidak sekolah yang penting tetap dan terus belajar.
Boleh jadi suatu ketika sekolah tidak ada lagi di dunia ini, sebagaimana dulu--pada zaman manusia-manusia sempurna (Nabi dan Rasul)--juga pernah tidak ada makhluk yang namanya sekolah. Tetapi yang pasti, jika tak ingin peradaban punah, belajar dan pendidikan tidak boleh lepas dari kehidupan manusia selama mereka hidup di dunia.
