Jangan ukur nilai seseorang berdasarkan rendah atau tingginya sekolah dia, atau berapa banyak buku yang ditulisnya. Sebab Muhammad, Yesus, dan Buddha yang adalah manusia paling hebat sepanjang sejarah dunia tidak pernah sekolah (maksudnya sekolah sangat formal seperti yang kita kenal sekarang) dan tidak pernah menulis buku sama sekali.
Satu hal sudah jelas: aku berpendapat Al-Qur'an bukan karangan Rasulullah. Kalau Al-Hadits? Berarti sabda Nabi bukan tulisan Nabi. Buku The Everything Great Thinkers Book memberitahuku bahwa Yesus tidak pernah menulis apapun. Lalu Injil perjanjian baru ditulis oleh siapa? Pendapat mayoritas mengatakan kalau terdapat 4 penulis Injil perjanjian baru yaitu Mark (Markus), Matius (Matthews), Luke (Lukas) dan John (Johannes). Dan Buddha, apakah dia pernah menulis buku? Sejauh pengetahuanku nggak. Dalam buku The 100 Michael Hart menulis, "ajaran Buddha (yang diucapkan) dihafal oleh banyak pengikutnya di luar kepala, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara lisan."
Berikut sedikit dari sekian banyak testimoni mengenai Muhammad Yesus Buddha:
Emha Ainun Nadjib dalam buku Jejak Tinju Pak Kyai hal 220 memberi nasehat kepada pembaca tulisannya, "Pandanglah Allah, Muhammad, Yesus, Buddha, jangan pandang saya..."
Berdasarkan tulisan Andrias Harefa dalam buku bestsellernya Menjadi Manusia Pembelajar, aku membuat kesimpulan, "Jika Soekarno, Hatta dan Syahrir adalah guru bangsa; Aquino, Huntington dan Mandela adalah guru bangsa-bangsa; maka Muhammad, Yesus, Buddha adalah guru umat manusia." Aku tak bisa mendeskripsikan ketiganya lebih baik dari Pak Andrias, "Baik ucapan maupun tindakan mereka mencerminkan suatu sikap hidup yang nyaris sempurna atau bahkan sempurna dalam arti sepenuhnya diarahkan oleh hati nurani yang bersih, penalaran yang sehat, dan kehendak yang tunduk pada hukum-hukum Tuhan." Dan Alhamdulillah, segala puji Allah, menurut pendapatku hal ini merupakan salah satu bukti bahwa belajar itu esensial, sedangkan sekolah cuma sekadar artifisial karena tak pernah mencetak orang-orang yang sebanding dengan Muhammad, Yesus, dan Buddha.
Hmm, anda masih ragu? Silakan simak uraian singkat Prof. Dr. Komaruddin Hidayat sebagai berikut: "Alam semesta dan kehidupan ini adalah sebuah buku raksasa yang terbuka dan menunggu untuk dibaca oleh kita semua. Yang namanya sekolah hanya sebagian kecil saja dari ruang kelas dan proses pembelajaran hidup. Sarjana agung dari universitas kehidupan adalah Muhammad itu sendiri yang tidak tumbuh dalam tradisi baca-tulis (dan tentu saja, sekolah...)" Dr. Michael Hart, cendekiawan asal Amerika dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History menuliskan mengenai Nabi Saw: "Saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara bidang agama dan bidang duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi seutuhnya adalah manusia paling berpengaruh sepanjang sejarah."
Hart juga menulis: "Pengaruh Yesus dalam sejarah kemanusiaan begitu jelas dan besar. Seperti halnya nabi-nabi, Yesus (Isa) memiliki pesona kepribadian luar biasa yang meninggalkan kesan mendalam dan tak terlupakan begitu bertemu dengannya. Isa seorang yang mempunyai daya karisma dalam arti sesungguhnya." Sedangkan penyair terbesar abad ke-20 Kahlil Gibran meyakini Yesus sebagai tokoh supremasi semua zaman. Gibran mengatakan, "Seniku tak dapat menemukan tempat istirahat yang lebih baik daripada kepribadian Yesus.... Hidupnya adalah simbol perikemanusiaan. Ia akan selalu menjadi tokoh segala zaman, dan dalam dirinya, kita akan selalu menemukan misteri, gairah, cinta, imajinasi, tragedi, keindahan, romansa, dan kebenaran."
Mengenai Buddha Gautama, wikipedia menuliskan, "Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna). Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi." Prof. Max Muller, sarjana Jerman berpendapat, "Sang Buddha adalah perwujudan dari seluruh kebajikan yang telah beliau babarkan. Selama 45 tahun pembabaran Dhammanya yang sukses dan diwarnai berbagai peristiwa, beliau menerjemahkan semua kata-katanya ke dalam tindakan nyata; dan tiada celah sedikit pun yang disediakan bagi munculnya berbagai nafsu keinginan rendah. Aturan moral dari Sang Buddha adalah yang paling sempurna yang pernah dikenal oleh dunia."
Berikut ini merupakan contoh sabda, yang menunjukkan "sikap hidup yang sempurna":
Setelah dianiaya oleh orang-orang Thaif Nabi Muhammad bermunajat: "Ya Allah, kepada-Mu aku mengeluhkan kelemahanku, ketidakberdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi! Engkau Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau hendak menyerahkan diriku? Kepada orang-orang asing yang bermuka masam terhadapku atau kepada musuh yang Engkau takdirkan mengalahkanku? Hal itu tidak aku risaukan, jika Engkau tidak murka kepadaku. Namun rahmat-Mu bagiku amat luas. Aku menyerahkan diri pada cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan dan menentukan kebaikan urusan dunia dan akhirat. Aku berlindung dari murka-Mu. Aku senantiasa mohon rida-Mu, karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas perkenan-Mu."
Yesus pernah berkhotbah di atas bukit: "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." Dalam kesempatan yang sama di bukit itu, Yesus juga bersabda, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga."
Sang Buddha bersabda : "Jika seseorang dengan kedunguannya berbuat salah terhadapku, maka aku akan membalasnya dengan melindunginya dalam tirai kasihku yang tak terbatas. Semakin jahat yang datang darinya, semakin baik yang harus kuberikan." Kata-kata bijaksana Buddha yang lain, "Manusia sejati hanya dapat dilukai oleh kejahatan yang dia lakukan. Bukan oleh kejahatan yang dilakukan orang lain pada dirinya, ataupun yang lainnya."
Semoga dengan membaca tulisan sederhana ini kalian dapat merasakan keagungan mereka bertiga sebagaimana aku merasakannya.